|
|
“Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.” (2 Korintus 9:7)
Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita, dengan kerelaan hati dan bukan dengan sedih hati atau karena paksaan. Rela artinya bersedia dengan ikhlas hati, dapat diterima dengan senang hati, tidak mengharap imbalan dan dengan kehendak/kemauan sendiri.
Dalam 2 Korintus 9 : 7 Paulus menasihatkan mengenai pemberian secara materi dari jemaat Korintus untuk saudara-saudara di Yerusalem. Orang-orang yang rela menabur secara materi kepada saudara-saudara yang membutuhkan, akan menuai sesuai kerelaannya dalam menabur. Akan tetapi kerelaan hati tidak hanya dibutuhkan saat kita memberi secara materi, tapi juga saat kita berdoa. Tuhan tidak menginginkan kita berdoa dengan sedih hati karena berbagai motivasi yang terpaksa, misalnya “sudah terlanjur ditugaskan”, “sudah menjadi kewajiban”, “apa kata orang kalau saya tidak ikut doa ?” atau takut tidak diberkati kalau tidak berdoa. Kalau berdoa hanya sekedar karena hukum dan aturan, akhirnya kegiatan doa akan menjadi acara agamawi yang membebani. Justru sebaliknya berdoa adalah kegiatan yang seharusnya tidak membebani, tapi satu sukacita karena dengan doa kita bisa memuaskan kerinduan kita kepada Tuhan.
Sebagai seorang pegawai saya sangat terganggu jika ada seorang rekan kerja yang bekerja dengan sungut-sungut, apalagi atasan saya pasti lebih tidak senang dengan karyawan yang bekerja dengan setengah hati. Saya, dan saya yakin kita semua, pasti juga tidak senang jika ada teman yang memberikan hadiah kepada kita tapi dengan setengah hati, tanpa keikhlasan dan pada akhirnya hanya mengharapkan imbalan. Begitu juga Tuhan kita, Tuhan tidak menghendaki kita menjadi pemberi yang bersungut-sungut, dengan sedih dan dengan paksaan. Atau dalam kata lain, kita sedang memberikan kepada Tuhan sesuatu yang sebenarnya kita tidak mau lakukan atau berikan bagi Tuhan. Tuhan tidak menginginkan kita berdoa tapi sebenarnya hati kita tidak mau berdoa. Tuhan menginginkan doa yang ikhlas, dengan senang hati, tidak mengharap imbalan dan dengan kehendak kita sendiri.
Saya yakin Tuhan Yesus tidak gila hormat, Tuhan juga tidak bertambah kaya kalau kita berdoa berjam-jam, tidak tambah miskin kalau kita tidak berdoa. Tapi yang saya yakini, Tuhan senang melihat anak-anakNya yang suka dan rela berdoa karena mengasihi Tuhan. Saat datang kepada Tuhan dalam doa, jangan datang karena berkat-berkatNya, tapi datang kepada Tuhan karena pribadiNya yang kita rindukan. Memang dalam doa kita juga menyertakan berbagai permohonan, tapi saya memiliki pengertian bahwa sebenarnya Tuhan sudah mengerti segala kebutuhan kita tanpa perlu kita ucapkan, bahkan Tuhan sebagai pencipta jauh lebih mengerti yang terbaik bagi saya sebagai ciptaanNya. Tapi memohon berkat dalam doa tetap penting, supaya iman kita bekerja dan kita menyadari ketergantungan kita secara penuh kepada Tuhan sebagai sumber kehidupan.
Berdoa harus dilakukan dengan hati yang rela, namun bukan berarti hal ini menjadi alasan bahwa kita tidak perlu berdoa saat daging kita tidak mendukung, atau bahasa gaulnya “sedang tidak mood”. Justru sebaliknya kita harus mendisiplinkan diri kita karena kita memang mau didisiplin, bukan karena suatu keharusan dan paksaan. Disiplin diri tetap sangat dibutuhkan untuk dapat secara konsisten berdoa dalam segala keadaan. Apa yang saya alami sendiri, memang seringkali perasaan saya malas dan enggan, sehingga tidak selalu mendorong saya untuk terus berdoa. Seringkali untuk datang di doa pagi di Pasir Koja 39, saya perlu perjuangan ekstra. Saat masih kos di Kebon Manggu memang doa pagi lebih mudah karena dekat, tapi setelah pindah lebih jauh ke Taman Kopo Indah butuh perjuangan lebih untuk tetap bisa doa pagi. Puji Tuhan sampai sekarang saya masih belajar mendisiplin diri untuk doa pagi di Pasir Koja 39 satu minggu sekali. Di rumah saya juga belajar mendisiplin diri untuk terus mengadakan mezbah keluarga setiap hari. Kita semua perlu mendisiplin diri agar dapat senantiasa berdoa dengan rela dalam segala keadaan, tanpa tergantung pada perasaan atau mood yang seringkali tidak stabil. Amin.
Cuplikan Kehidupan Hana
1 Samuel 1:9. Pada suatu kali, setelah mereka habis makan dan minum di Silo, berdirilah Hana, sedang imam Eli duduk di kursi dekat tiang pintu bait suci TUHAN, 1:10 dan dengan hati pedih ia berdoa kepada TUHAN sambil menangis tersedu-sedu. 1:11 Kemudian bernazarlah ia, katanya: “TUHAN semesta alam, jika sungguh-sungguh Engkau memperhatikan sengsara hamba-Mu ini dan mengingat kepadaku dan tidak melupakan hamba-Mu ini, tetapi memberikan kepada hamba-Mu ini seorang anak laki-laki, maka aku akan memberikan dia kepada TUHAN untuk seumur hidupnya dan pisau cukur tidak akan menyentuh kepalanya.” 1:12 Ketika perempuan itu terus-menerus berdoa di hadapan TUHAN, maka Eli mengamat-amati mulut perempuan itu; 1:13 dan karena Hana berkata-kata dalam hatinya dan hanya bibirnya saja bergerak-gerak, tetapi suaranya tidak kedengaran, maka Eli menyangka perempuan itu mabuk. 1:14 Lalu kata Eli kepadanya: “Berapa lama lagi engkau berlaku sebagai orang mabuk? Lepaskanlah dirimu dari pada mabukmu.” 1:15 Tetapi Hana menjawab: “Bukan, tuanku, aku seorang perempuan yang sangat bersusah hati; anggur ataupun minuman yang memabukkan tidak kuminum, melainkan aku mencurahkan isi hatiku di hadapan TUHAN. 1:16 Janganlah anggap hambamu ini seorang perempuan dursila; sebab karena besarnya cemas dan sakit hati aku berbicara demikian lama.” 1:17 Jawab Eli: “Pergilah dengan selamat, dan Allah Israel akan memberikan kepadamu apa yang engkau minta dari pada-Nya.” 1:18 Sesudah itu berkatalah perempuan itu: “Biarlah hambamu ini mendapat belas kasihan dari padamu.” Lalu keluarlah perempuan itu, ia mau makan dan mukanya tidak muram lagi.
Teladan Hana bagi Samuel
1. Mempercayai Tuhan
• Hana tetap kuat dalam masa sulit
Hana memiliki kesulitan yang membuat hatinya pedih dan menangis tersedu-sedu, tapi Hana memutuskan untuk tetap tegar dan menaruh pengharapannya hanya kepada Tuhan.
1 Samuel 1:5 Meskipun ia mengasihi Hana, ia memberikan kepada Hana hanya satu bagian, sebab TUHAN telah menutup kandungannya.
• Hana terus berdoa
Hana terus berdoa untuk kandungannya yang tertutup.
Sumber utama dalam pertandingan hidup : Firman Tuhan dan Doa. Keinginan kita untuk menjadi juara dalam panggilan hidup, besar atau kecil, sangat tergantung pada serela apa Anda berDOA untuk menerima keberhasilan itu (Timotius Adi Tan, Decision)
• Hana tidak mengandalkan kekuatan dan jalan pikiran manusia
Hana tidak melakukan hal yang dilakukan Rahel (dengan Bilha) ataupun Sara (dengan Hagar). Di masa itu biasanya seorang istri yang mandul akan memberikan hambanya untuk melahirkan anak baginya. Sara harus mendapatkan Ismael sebagai akibat jalan pikirannya sendiri.
Yeremia 17:7-8 Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.
2. Mengasihi Tuhan
• Hana mengasihi Tuhan lebih dari mengasihi Samuel
Hana menepati nazarnya untuk menyerahkan Samuel kepada Tuhan seumur hidupnya. Hana tidak mengasihi berkat dan janji Tuhan melebihi sumbernya, yaitu Allah sendiri.
1 Samuel 1:27-28 Untuk mendapat anak inilah aku berdoa, dan TUHAN telah memberikan kepadaku, apa yang kuminta dari pada-Nya. Maka akupun menyerahkannya kepada TUHAN; seumur hidup terserahlah ia kiranya kepada TUHAN.” Lalu sujudlah mereka di sana menyembah kepada TUHAN.
• Hana mendapatkan upah dalam kesetiannya
Hana mendapatkan lagi 3 anak laki-laki dan 2 anak perempuan. Apa yang dilakukan Hana adalah indah di mata Tuhan, Tuhan melihat kesetiaan dan kasihnya sehingga melimpahkan berkat-berkat.
1 Samuel 2:21 Dan TUHAN mengindahkan Hana, sehingga dia mengandung dan melahirkan tiga anak laki-laki dan dua anak perempuan lagi. Sementara itu makin besarlah Samuel yang muda itu di hadapan TUHAN.
3. Mengasihi Samuel
• Hana mengasihi Samuel
Hana mengasihi Samuel dengan membuatkan jubah kecil setiap tahun. Hana mengajarkan tentang kasih yang sangat berguna bagi Samuel untuk mengasihi bangsa Israel saat memerintah menjadi hakim.
1 Samuel 2:19 Setiap tahun ibunya membuatkan dia jubah kecil dan membawa jubah itu kepadanya, apabila ia bersama-sama suaminya pergi mempersembahkan korban sembelihan tahunan.
Dampak Teladan Hana dalam Hidup Samuel
1. Samuel bertumbuh dengan karakter yang baik
Samuel bertumbuh besar dan disukai baik di hadapan Tuhan dan di hadapan manusia.
1 Samuel 2:26 Tetapi Samuel yang muda itu, semakin besar dan semakin disukai, baik di hadapan TUHAN maupun di hadapan manusia.
2. Samuel hidup dengan integritas di hadapan Tuhan dan manusia
Semasa hidupnya, Samuel dipercaya sebagai nabi Tuhan serta menjadi imam dan hakim bagi bangsa Israel.
1 Samuel 12:3-4 Di sini aku berdiri. Berikanlah kesaksian menentang aku di hadapan TUHAN dan di hadapan orang yang diurapi-Nya: Lembu siapakah yang telah kuambil? Keledai siapakah yang telah kuambil? Siapakah yang telah kuperas? Siapakah yang telah kuperlakukan dengan kekerasan? Dari tangan siapakah telah kuterima sogok sehingga aku harus tutup mata? Aku akan mengembalikannya kepadamu.” Jawab mereka: “Engkau tidak memeras kami dan engkau tidak memperlakukan kami dengan kekerasan dan engkau tidak menerima apa-apa dari tangan siapapun.”
3. Samuel mengasihi bangsa Israel
Samuel mengasihi bangsa Israel bahkan ketika bangsa Israel melakukan hal yang jahat di mata Tuhan dengan meminta seorang raja.
1 Samuel 12:23 Mengenai aku, jauhlah dari padaku untuk berdosa kepada TUHAN dengan berhenti mendoakan kamu; aku akan mengajarkan kepadamu jalan yang baik dan lurus.
Renungan
1. Perhatikan 1 Samuel 8:1-3 berikut :
1 Samuel 8:1-3 Setelah Samuel menjadi tua, diangkatnyalah anak-anaknya laki-laki menjadi hakim atas orang Israel. Nama anaknya yang sulung ialah Yoel, dan nama anaknya yang kedua ialah Abia; keduanya menjadi hakim di Bersyeba. Tetapi anak-anaknya itu tidak hidup seperti ayahnya; mereka mengejar laba, menerima suap dan memutarbalikkan keadilan.
Mengapa anak-anak Samuel tidak hidup seperti ayahnya ? Apakah Samuel tidak berhasil jadi teladan, atau justru anak-anaknya yang memutuskan untuk tidak meneladani orang tuanya ?
2. Perhatikan 1 Samuel 3:13-14 berikut :
1 Samuel 3:13-14 Sebab telah Kuberitahukan kepadanya, bahwa Aku akan menghukum keluarganya untuk selamanya karena dosa yang telah diketahuinya, yakni bahwa anak-anaknya telah menghujat Allah, tetapi ia tidak memarahi mereka! Sebab itu Aku telah bersumpah kepada keluarga Eli, bahwa dosa keluarga Eli takkan dihapuskan dengan korban sembelihan atau dengan korban sajian untuk selamanya.”
Imam Eli tidak menjadi teladan yang baik bagi kedua anaknya Hofni dan Pinehas (1 Samuel 2:29). Kedua anak Eli adalah orang dursila yang tidak mengindahkan Tuhan ataupun batas hak para imam (1 Samuel 12:12-13), mereka juga tidur dengan perempuan-perempuan yang melayani di depan pintu Kemah Pertemuan (1 Samuel 12:22). Apakah yang dapat kita pelajari dari kesalahan Imam Eli ?
Hari Selasa yang lalu ada pembacaan Firman di doa pagi, dan kebetulan jatuh di Rut 1 dan 2.
Dalam cerita 4 pasal yang singkat dari Rut, kita menemukan bahwa sebenarnya Rut adalah perempuan Moab yang mengalami penderitaan bersama dengan ibu mertuanya Naomi dan saudara iparnya Orpa. Tapi sepanjang kisah tersebut, kita melihat bagaimana kesetiaan Rut terhadap Naomi sekalipun dalam penderitaan, sampai akhirnya menerima sukacita besar pada akhir cerita dengan menjadi istri Boas. Yang sangat menarik adalah pada akhirnya nama Rut juga muncul dalam silsilah Yesus.
Saat membahas berkat dari Firman Tuhan ini, saya ingat ayat di 1 Timotius 5:3-4
(3) Hormatilah janda-janda yang benar-benar janda.
(4) Tetapi jikalau seorang janda mempunyai anak atau cucu, hendaknya mereka itu pertama-tama belajar berbakti kepada kaum keluarganya sendiri dan membalas budi orang tua dan nenek mereka, karena itulah yang berkenan kepada Allah.
[versi Bahasa Indonesia Terjemahan Baru ]
(3) Hormatilah janda-janda yang benar-benar hidup seorang diri.
(4) Tetapi kalau seorang janda mempunyai anak-anak atau cucu-cucu, mereka itulah yang pertama-tama harus diberi pengertian bahwa mereka wajib memperhatikan kaum keluarga mereka, dan membalas budi orang tua dan nenek mereka. Sebab hal itulah menyenangkan hati Allah.
[versi Bahasa Indonesia Sehari-hari ]
(3) [Always] treat with great consideration and give aid to those who are truly widowed (solitary and without support).
(4) But if a widow has children or grandchildren, see to it that these are first made to understand that it is their religious duty [to defray their natural obligation to those] at home, and make return to their parents or grandparents [for all their care by contributing to their maintenance], for this is acceptable in the sight of God.
[versi Amplified Bible]
Yang menarik di sini adalah Paulus > 1000 tahun kemudian menulis “Hormatilah janda-janda yang benar-benar janda. Tetapi jikalau seorang janda mempunyai anak atau cucu, hendaknya mereka itu pertama-tama belajar berbakti kepada kaum keluarganya sendiri dan membalas budi orang tua dan nenek mereka, karena itulah yang berkenan kepada Allah.”
Naomi adalah janda yang benar-benar hidup seorang diri tanpa Elimelekh (suami), Mahlon (anak) dan Kilyon (anak) yang semuanya meninggal, serta akhirnya Orpa (salah satu menantu) pun pergi. Dan Rut memilih sebagai anak (menantu) untuk
berbakti dan membalas budi kepada orang tua-nya (mertua). Ingatlah bagaimana Rut memilih mengikut Naomi meskipun kelihatannya tidak ada keuntungan yang bisa didapat jika tinggal bersama Naomi, bagaimana Rut memilih tanggungjawab untuk pergi ke ladang guna memungut bulir-bulir jelai sisa di belakang para pekerja di ladang bagi kebutuhan Rut dan Naomi. Dan apa yang dilakukan oleh Rut kepada Naomi itu dikatakan Paulus sebagai berkenan kepada Allah.
Kemarin melihat proses pembukaan real-count KPU melalui layar TV-One. Di situ banyak dibahas mengenai komposisi perolehan suara, kemenangan Demokrat yang mengejutkan, dan menurunnya suara Golkar sebagai juara bertahan. Satu hal lagi yang dibahas adalah masalah DPT (Daftar Pemilih Tetap) yang tidak akurat (ada yang mengatakan tidak hanya kurang akurat, tapi kacau balau dan akhirnya banyak yang tidak terdaftar alias golput secara paksa). Dan sampai hari ini tidak ada pernyataan atau keterangan mengenai hal ini dari KPU. Presenter sempat menyinggung masalah kekacauan DPT, dan mempertanyakan tanggung jawab KPU, atau setidaknya ada kata maaf.
Belajar dari kata-kata tergaris di atas, kata maaf masihlah satu hal yang penting dan diharapkan keluar dari pihak yang bertanggung jawab. Setiap kesalahan yang terjadi baik disengaja atau tidak oleh seseorang, dapat menimbulkan kerugian secara materi maupun jiwani kepada pihak yang dirugikan. Dan bukan hal yang bijak jika pihak yang bertanggung jawab meninggalkan masalah itu begitu saja, menganggap selesai tanpa perlu ada penjelasan dan permintaan maaf dan bahkan bertanggung jawab mengganti rugi.
Seringkali posisi pemimpin lah yang melakukan hal ini kepada pihak yang dipimpin. Kalau yang dirugikan adalah pihak yang memimpin, dan pihak bawahan tidak mengaku salah dan minta maaf, pasti berlanjut ke tindakan disiplin. Tapi sangat berbeda jika yang melakukan adalah pihak pemimpin, pihak bawahan tidak bisa protes apalagi memberikan tindakan disiplin kepada pemimpinnya. Mungkin masih saja ada anggapan “pemimpin tidak pernah salah” atau mungkin ada gengsi untuk meminta maaf. Tapi tentu saja akan menyisakan rasa ketidakpercayaan kepada pemimpin dan pasti mengurangi rasa hormat kepada pemimpin. Jika kita adalah pemimpin yang banyak ditinggalkan oleh orang-orang yang pernah kita pimpin, koreksilah diri kita sendiri, apakah kita memang layak diberi kepercayaan dan penghormatan.
Memang kata maaf tidak selalu bisa mengganti kerugian dan terlebih luka hati yang ditinggalkan pada pihak yang dirugikan. Tapi setidaknya ada kata maaf, yang dapat mengembalikan kepercayaan dan penghormatan kepada pemimpin yang mau rendah hati mengakui kesalahan dan meminta maaf.
Yah, itu sekedar refleksi untuk saya pribadi yang memimpin setidaknya beberapa mahasiswa di dalam kelas ataupun pekerjaan lain di kampus. Setidaknya ada kata maaf, jika saya melakukan kesalahan secara sengaja maupun tidak. Mengeraskan hati dan tidak mau merendahkan diri untuk meminta maaf adalah kesombongan dan keangkuhan, tentu saja bukan termasuk sebagai karakter yang baik untuk dipertahankan.
After all, mau sharing tentang Lukas 6:38 “Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.”
Ayat ini sering muncul ketika kita bicara tentang berkat jasmani. Tapi kalau tidak diambil sepotong-sepotong, sebenarnya lengkapnya :
6:37. “Janganlah kamu menghakimi, maka kamupun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamupun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni.
6:38 Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.”
6:39 Yesus mengatakan pula suatu perumpamaan kepada mereka: “Dapatkah orang buta menuntun orang buta? Bukankah keduanya akan jatuh ke dalam lobang?
6:40 Seorang murid tidak lebih dari pada gurunya, tetapi barangsiapa yang telah tamat pelajarannya akan sama dengan gurunya.
6:41 Mengapakah engkau melihat selumbar di dalam mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui?
6:42 Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Saudara, biarlah aku mengeluarkan selumbar yang ada di dalam matamu, padahal balok yang di dalam matamu tidak engkau lihat? Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.”
Dan judul perikopnya adalah “Hal Menghakimi”. Kalau dikaitkan dengan ayat 37 mengenai pengampunan, dapat dikatakan bahwa perihal memberi di ayat 38 adalah pemberian pengampunan. Mengenai istilah “Satu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan tumpah keluar” jadi ingat ilustrasi kotbah beberapa minggu lalu tentang ayat ini. Ini seperti tukang kacang rebus yang menggunakan kaleng untuk menakar kacang dari tempatnya, untuk kemudian dimasukkan ke contong kertas untuk dibungkus. Takaran yang tidak padat adalah seperti kaleng yang dimasukkan ke tumpukan kacang, lalu terlihat penuh, dan langsung dimasukkan ke contong kertas. Tapi sangat berbeda dengan kualitas takaran yang padat. Takaran yang padat adalah seperti kaleng kosong yang dimasukan ke tumpukan kacang, keluar terlihat penuh tapi digoncang-goncangkan sehingga rongga-rongga yang tersisa dapat terisi. Setelah digoncang dan permukaan kaleng turun, maka kacang diisikan lagi di atasnya, dan bahkan tidak hanya digoncang-goncang tapi juga dipadatkan dan bahkan tumpah keluar. Ini yang dinamakan “Satu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan tumpah keluar”.
Begitu juga dengan takaran kita, kita yang sudah mengalami kasih Allah yang begitu besar dalam hidup kita, seharusnya kita punya takaran kasih yang sampai tumpah keluar. Artinya kasih dan pengampunan juga mengalir keluar dari hidup kita secara otomatis ketika kita mengalami takaran kasih dan pengampunan Allah. Tidak ada lagi penghakiman terhadap saudara-saudara kita, selain teguran yang penuh kasih jika kita melihat ada saudara kita yang melakukan kesalahan, sambil mengeluarkan balok kita sendiri dari mata kita (hakimilah diri kita sendiri, nilailah pekerjaan kita sendiri, ujilah diri kita sendiri).
Mari kita belajar saling mengampuni, Selamat Paskah, Tuhan memberkati.
Telah kulihat bukti kasihMu
Kau menderita gantikan ku
Dengan darahMu Kau s’lamatkanku
Kini ku hidup menyenangkanMu
Terlalu besar kasihMu, Bapa
Pengorbanan yang Kau b’rikan bagiku
Terlalu mahal darahMu, Yesus
Tercurah untuk menebus hidupku
Hidup yang Kau b’rikan bagiku
S’lamatkan dan pulihkan ku
Lebih dari segalanya
Terlalu besar – By United to Excel – Album Restoration
Listen on : http://www.imeem.com/janssen1011/music/8Rs1IoMC/ux-band-ux-band-terlalu-besar/
Ada banyak hal dalam Alkitab yang dapat menuntun kita untuk hidup sesuai dengan standar Allah.
Tapi ada banyak juga perkara dalam kehidupan yang tidak secara khusus tertulis dalam Alkitab, yang seringkali membuat seseorang bingung apakah ini boleh / tidak sesuai dengan standar Allah ?
Seperti merokok ? (di beberapa gereja diijinkan, karena apa yang tidak tertulis di Alkitab diperbolehkan) Kebiasaan pergi ke dugem ? (apakah sama sekali tidak boleh ? atau boleh sesekali? atau ?) Hobi tertentu ? (nonton bioskop? nonton sinetron? main game? bahkan pelayanan?) dan masih banyak perkara lain yang kita membuat kita seringkali bingung mengambil keputusan, ataupun kalau bisa mengambil keputusan tapi tidak ada dasar yang kuat untuk berpijak.
Berikut ada 4 hal yang dituliskan dalam buku Mengejar Kekudusan (Jerry Bridges), disebut sebagai “Rumus : Bagaimana Mengetahui yang Baik dari yang Jahat”
“Segala sesuatu halal bagiku, tetapi bukan semuanya berguna” (1 Korintus 6:12)
Pertanyaan 1 : Apakah itu berguna – secara fisik, rohani dan mental ?
“Segala sesuatu halal bagiku, tapi aku tidak membiarkan diriku diperhamba oleh suatu apa pun” (1 Korintus 6:12)
Pertanyaan 2 : Apakah itu membawa saya ada di bawah kendalinya ?
“Karena itu apabila makanan menjadi batu sandungan bagi saudaraku, aku untuk selama-lamanya tidak akan mau makan daging lagi, supaya aku jangan menjadi batu sandungan bagi saudaraku” (1 Korintus 8:13)
Pertanyaan 3 : Apakah itu membawa akibat buruk bagi orang lain ?
“Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah” (1 Korintus 10:31)
Pertanyaan 4 : Apakah itu memuliakan Allah ?
4 pertanyaan di atas dapat membantu kita dalam membuat keputusan yang benar. Termasuk mengoreksi kebiasaan-kebiaasan kita yang salah, yang mungkin sudah terlalu lama kita lakukan karena kita anggap tidak tertulis secara khusus di dalam Firman Tuhan.
Apalah arti sebuah nama ? Sering kita bergumam demikian, tapi apakah ada orang tua yang menamakan anaknya “Sial”, “Busuk”, “Rugi”, “Penipu” atau “Jelek” ? Ya mungkin ada beberapa orang tua yang menamakan “Yabes” atau nama lain yang artinya kurang baik. Tapi jauh lebih banyak kita menemukan orang tua yang memberi nama “Untung”, “Suci”, “Jujur” atau “Indah”. Demikian juga banyak nama lain yang merupakan nama teladan dari orang-orang terdahulu, yang tentu hidupnya jadi teladan. Ada banyak orang tua yang menamakan anaknya Daud, Salomo, Samuel dan bukan Yudas atau Izebel.
Kebetulan hari ini membaca Filipi 2, dan di situ ada commentary (kebetulan saya menggunakan Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan) mengenai Filipi 2:19 yang memberikan catatan tentang nama saya (nama yang diberikan oleh orang tua dengan sejuta pengharapan terkandung di dalamnya).
Timotius “Menjadi teladan yang baik tentang bagaimana seharusnya keadaan seorang hamba dan utusan Allah (2Tim 3:15), seorang hamba Kristus yang layak. Dialah pelajar Firman Allah yang berhasrat dan taat (1Tes 3:2), seorang dengan reputasi yang baik (Kis 16:2), yang kekasih dan yang setia (1Kor 4:17), sungguh-sungguh memperhatikan orang lain (Fil 2:20), dapat dipercayai (2Tim 4:9,21) dan setia kepada Paulus serta Injil (Fil 2:22, Rm 16:21)”
Arti tambahan dari beberapa referensi lain
Timotius : menghormati Allah
Terimakasih untuk orang tua yang memiliki harapan yang sangat tinggi terhadap anak-anaknya. Marilah hidup kita tidak hanya berpadanan dengan Injil, tapi juga berpadanan dengan doa dan harapan orang tua kita.
Pagi ini rencana akan berangkat ke kampus pukul 9 pagi. Sudah selesai mandi dan sarapan, kemudian ganti baju di dalam kamar. Tiba-tiba melihat mama terbaring lemah di kasur, tidak biasanya mama tidur jam segini. Memang beberapa hari terakhir mama kena demam, dan tadi pagi juga minta dibelikan minyak kayu putih karena perutnya mual.
Komunikasi pun terjadi, ternyata mama baru muntah karena mual. Kemungkinan obat demam berdosis tinggi, dan justru malah berakibat negatif terhadap maag dan ginjal. Melihat kondisi mama seperti itu, dan cici serta sepupu sudah berangkat, akhirnya saya mengurungkan diri untuk berangkat ke kantor. Kebetulan hari ini tidak ada kelas mengajar dan kelas kuliah, hanya ada beberapa janji yang bisa ditunda ke hari Rabu.
Hari ini satu hari bersama mama, tidak biasanya bisa membuatkan satu gelas teh dan dua lembar roti panggang. Karena mama tetap tidak mau istirahat meskipun sakit, akhirnya ikut bantu mencuci, menyapu rumah dan berkebun membersihkan taman depan rumah. Ternyata ini kegiatan mama sehari-hari kalau kami bertiga tidak ada di rumah, mama tidak pernah mengeluh untuk bangun paling pagi untuk menyiapkan makanan untuk kami, serta melakukan semua pekerjaan rumah sehingga rumah menjadi sangat nyaman untuk dihuni kami sekeluarga. Termasuk ketika bulan lalu saya harus dirawat di rumah selama 5 hari karena thypus, mama yang merawat dan menyediakan semuanya. Terimakasih ma, anak-anakmu patut menyebutmu berbahagia.
Rasanya ada banyak orang yang mengingatkan saya untuk menyayangi mama selama masih sehat dan belum berkeluarga. Pertama kali yang membuka mata saya tentang hal ini, adalah Ibu Irene (psikolog yang melakukan wawancara saat seleksi karyawan di Maranatha). Setidaknya yang saya ingat dari nasihat beliau adalah “Sering-sering pulang ke Tegal ya, satu atau dua minggu sekali menjenguk mama, biayanya kan tidak terlalu mahal. Mumpung masih belum punya istri, kalau sudah punya istri biasanya sikap terhadap mama jadi lain. Kalau sudah di atas umur 50, sudah menopause, biasanya kesehatan wanita lebih tidak menentu, mumpung sehat harus bisa membahagiakan mama.” Setidaknya sudah 3,5 tahun yang lalu didengar, tapi nasihat bijak yang membuka mata seperti itu seakan masih baru kemarin sore terdengar. Nasihat itu juga yang membuat saya akhirnya memikirkan untuk membeli rumah (meskipun dengan cara KPR) dan tinggal bersama mama di Bandung.
Beberapa hari yang lalu, saya juga diingatkan hal yang sama oleh teman online yang kebetulan baru kenal satu minggu yang lalu, tapi kami sudah berbagi banyak hal. Termasuk tentang mom, figur yang begitu beliau sangat rindukan hadir dalam kehidupannya secara penuh. Beliau mengingatkan tentang mom, dia menantang saya untuk membuatkan satu cangkir teh, mungkin sebagai tanda sayang (hari ini sudah saya lakukan). Beliau juga mengingatkan untuk sayang, dan mencari pasangan yang bisa merawat mom.
Saya juga ingat, bagaimana kotbah dari gembala di gereja, yang mengatakan bahwa “Kalau diharuskan untuk memilih salah satu, saya akan lebih memilih keluarga dibanding dengan gereja ini.” Karena menurut beliau, prioritas keluarga lebih tinggi dibanding pelayanan. Segala sesuatu dimulai dari keluarga, kalau hubungan di dalam keluarga tidak beres maka segala sesuatunya menjadi tidak beres.
Sekitar seminggu yang lalu juga, ada seorang teman lama yang ketemu secara online tengah-malam dan terbersit seberkas perkataan darinya “kamu pindah Jogja po’o”. Satu hal yang mungkin dengan mudah saya lakukan dua atau tiga tahun yang lalu, sekedar undur diri dari pekerjaan, undur diri dari kos-kosan dan pindah kota sambil mencari pekerjaan yang baru. Tapi satu tahun terakhir ini, dengan adanya keluarga yang tinggal bersama di Bandung, dengan posisi sebagai penyalur berkat utama di rumah, saya harus berulang kali berpikir jika harus mengikuti saran beliau. Ada begitu banyak tanggung jawab yang saya akan tinggalkan, terutama keluarga, kemudian pelayanan dan juga pekerjaan. Di mana di kota ini , ada begitu banyak jawaban yang terjadi atas doa-doa kami sekeluarga, ada begitu banyak pertolongan dan rancangan yang Tuhan sediakan secara ajaib dalam kehidupan saya. Tapi yang penting bukan kota di mana kita tinggal, tapi jauh lebih penting dari itu adalah perkenanan Tuhan atas hidup kita.
Abraham, Ishak dan Yakub tinggal di kota yang berbeda-beda. Abraham pergi ke Mesir saat kelaparan terjadi, tapi juga kemudian juga ke Gerar. Firaun dan Abimelekh memberkati Abraham karena perkara Sara. Ishak menabur di Gerar karena Tuhan melarang untuk pergi ke Mesir, dan Tuhan melipatgandakan taburannya. Melihat penyertaan Allah, Abimelekh pun berdamai dengannya. Yakub menghampiri Laban yang mengganti Rahel dengan Lea, meminta 7 tahun tambahan, mengubah upahnya bahkan sampai 10 kali, tapi tetap saja Yakub yang untung, berkat Tuhan beserta dengan orang yang berkenan di mata Tuhan. Jadi yang lebih penting adalah peka mendengar dan taat pada rencana Tuhan, di kota apapun kita di tempatkan bukanlah hal yang paling penting, yang terpenting adalah “Apakah perkenanan Tuhan ada dalam hidup saya di kota ini ?”
A. Dasar Firman Tuhan
(Kejadian 8:22)
“Selama bumi masih ada, takkan berhenti-henti musim menabur dan menuai, dingin dan panas, kemarau dan hujan, siang dan malam.”
(2 Korintus 9:6-15)
[6] Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga.
[7] Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.
[8] Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan.
[9] Seperti ada tertulis: “Ia membagi-bagikan, Ia memberikan kepada orang miskin, kebenaran-Nya tetap untuk selamanya.”
[10] Ia yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan, Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu;
[11] kamu akan diperkaya dalam segala macam kemurahan hati, yang membangkitkan syukur kepada Allah oleh karena kami.
[12]Sebab pelayanan kasih yang berisi pemberian ini bukan hanya mencukupkan keperluan-keperluan orang-orang kudus, tetapi juga melimpahkan ucapan syukur kepada Allah.
[13]Dan oleh sebab kamu telah tahan uji dalam pelayanan itu, mereka memuliakan Allah karena ketaatan kamu dalam pengakuan akan Injil Kristus dan karena kemurahan hatimu dalam membagikan segala sesuatu dengan mereka dan dengan semua orang,
[14]sedangkan di dalam doa mereka, mereka juga merindukan kamu oleh karena kasih karunia Allah yang melimpah di atas kamu.
[15] Syukur kepada Allah karena karunia-Nya yang tak terkatakan itu!
(Markus 12 : 41-44)
[41] Pada suatu kali Yesus duduk menghadapi peti persembahan dan memperhatikan bagaimana orang banyak memasukkan uang ke dalam peti itu. Banyak orang kaya memberi jumlah yang besar.
[42] Lalu datanglah seorang janda yang miskin dan ia memasukkan dua peser, yaitu satu duit.
[43] Maka dipanggil-Nya murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan.
[44] Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya.”
B. Hukum Tabur Tuai (memberi dan menerima / Sowing & Reaping)
1. Hukum Tabur Tuai adalah Hukum Ekonomi Allah.
Tabur = memberi , Tuai = menerima
Ada perbedaan mendasar antara Hukum dan Janji/Perjanjian :
|
Hukum
|
Janji
|
| - Hukum berlaku tanpa syarat, tanpa kecuali
- Contoh Hukum :
Hukum tabur tuai (Kej 8:22) berlaku untuk semua orang. |
- Janji berlaku jika syarat dipenuhi
- Contoh Janji :
Janji Tuhan pada Abraham (Kej 17:9), hanya berlaku bagi orang yang percaya. |
Hukum gravitasi di bumi ini berlaku untuk segala sesuatu. Hukum gravitasi tidak dibatasi oleh tempat (Di mana secara alami kita bisa menjatuhkan diri tanpa jatuh ke bawah ?), waktu (siang ataupun malam), orang (orang beriman maupun tidak), benda (benda hidup maupun mati, berat ataupun ringan) atau sesuatupun yang lain. Hukum gravitasi berlaku untuk segala sesuatu dan tanpa terkecuali.
Begitu jugalah dengan Hukum Tabur Tuai, hukum ekonomi Allah ini akan berlaku tanpa terkecuali. Hukum ini akan berlaku baik bagi orang percaya maupun orang tidak percaya.
2. Berikut ada 4 Hukum Tabur Tuai yang disampaikan di 2 Korintus 9 :
2.1. Siapa menabur, dia menuai
(2 Kor 9 : 6 Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga.)
Setiap orang akan menuai setiap benih yang ditaburnya.
2.2. Tuaian sebanding dengan taburan
(2 Kor 9 : 6 Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga.)
Orang yang menabur sedikit akan menuai sedikit juga, orang yang menabur banyak akan menuai banyak juga. Kuantitas/jumlah taburan tidak dinilai dari nominal, tapi dari proporsional. Kisah seorang janda miskin di Markus 12 : 41-44 menggambarkan mengenai jumlah taburan secara proporsional. Meskipun janda miskin tersebut memberikan hanya 1 duit (2 peser), akan tetapi dialah yang melakukan pemberian paling besar, karena dia memasukkan seluruh uang yang ada padanya. Sedangkan banyak orang kaya yang memberi dalam jumlah besar, meskipun jumlahnya jauh lebih besar dibandingkan 1 duit, tapi secara proporsional hanyalah sebagian kecil dari seluruh uang kepunyaan mereka.
2.3. Tuhan melipatgandakan taburan
(2 Kor 9 : 10 Ia yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan, Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu; )
Taburan tidak kembali dengan jumlah yang sama, tapi berlipat ganda. Tuhan yang akan melipatgandakan setiap benih yang ditaburkan.
2.4. Kualitas benih yang ditabur harus baik
(2 Kor 9 : 7 Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.)
Suatu benih yang ditabur dapat dikatakan baik jika :
- bukan benih yang didapat dari hasil yang tidak benar (contoh : uang hasil korupsi)
- dilakukan dengan sukacita
- tidak dilakukan dengan paksaan/sedih hati
- pemberian dilakukan dengan motivasi yang tulus
- pentingnya memiliki sikap yang benar terhadap uang (tidak cinta uang atau menjadi hamba uang)
- tidak dilakukan dengan maksud berjudi terhadap Allah
3. Akibat memberi
(2 Kor 9:8 Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan.)
Pemberian akan membuat :
- segala kasih karunia dilimpahkan
- berkecukupan dalam segala sesuatu
- berkelebihan dalam pelbagai kebajikan
4. Cara memberi
(2 Kor 9:10 Ia yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan, Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu;)
Berkat (salah satu contohnya adalah keuangan) dalam kehidupan kita harus dibagi menjadi 2 bagian.
Satu bagian sebagai roti dan satu bagian sebagai benih.
- Roti –> dinikmati sendiri, digunakan untuk kebutuhan pribadi
- Benih –> digunakan untuk menabur
5. Tujuan memberi
(2 Kor9:9 Seperti ada tertulis: “Ia membagi-bagikan, Ia memberikan kepada orang miskin, kebenaran-Nya tetap untuk selamanya.”)
Tujuan memberi adalah membagi kepada orang membutuhkan (miskin).
6. Hakekat memberi
(2 Kor 9 : 12 Sebab pelayanan kasih yang berisi pemberian ini bukan hanya mencukupkan keperluan-keperluan orang-orang kudus, tetapi juga melimpahkan ucapan syukur kepada Allah.)
- memberi adalah satu pelayanan (pelayanan kasih)
- mencukupkan keperluan orang-orang kudus (saudara-saudara kita seiman)
- melimpahkan syukur kepada Allah (bukan penghormatan pribadi)
7. Dampak memberi
(2 Kor 9 : 11 kamu akan diperkaya dalam segala macam kemurahan hati, yang membangkitkan syukur kepada Allah oleh karena kami.)
Diperkaya dengan segala kemurahan hati
8. 3 jenis Pemberian
8.1. Memberi dengan ketaatan (contoh : perpuluhan)
Perpuluhan diberikan bukan dengan dasar Taurat, tapi dengan dasar Abraham memberi kepada Melkisedek. Perpuluhan dilakukan untuk menunjukkan ketaatan kita kepada Allah.
Contoh : Pemberian 10% oleh Abraham kepada Melkisedek
8.2. Memberi dengan sukacita (pemberian di luar perpuluhan)
Melakukan pemberian selain pemberian yang wajib ditaati. Besarnya pemberian sesuai dengan keputusan seseorang membagi antara bagian roti dan bagian benih (tentang pembagian roti dan benih, sudah dibahas pada no.4 mengenai Cara Memberi).
Contoh : Pemberian jemaat mula-mula pada jaman rasul-rasul
8.3. Memberi dengan korban (pemberian 100%)
Memberi segala sesuatu yang dimiliki, lakukan jika memang Tuhan yang memberikan karunia iman.
Contoh : Pemberian janda miskin di Sarfat kepada Elia
[Diilhami dari kotbah Ir. David Kurniadi Muliadi (president director PT Stockindo Kurnia Lestari, chairman PT Mondave International, dan salah satu pendiri Kingdom Business Network Indonesia)]
|
|
Recent Comments