Arti Keluarga
Pagi ini rencana akan berangkat ke kampus pukul 9 pagi. Sudah selesai mandi dan sarapan, kemudian ganti baju di dalam kamar. Tiba-tiba melihat mama terbaring lemah di kasur, tidak biasanya mama tidur jam segini. Memang beberapa hari terakhir mama kena demam, dan tadi pagi juga minta dibelikan minyak kayu putih karena perutnya mual.
Komunikasi pun terjadi, ternyata mama baru muntah karena mual. Kemungkinan obat demam berdosis tinggi, dan justru malah berakibat negatif terhadap maag dan ginjal. Melihat kondisi mama seperti itu, dan cici serta sepupu sudah berangkat, akhirnya saya mengurungkan diri untuk berangkat ke kantor. Kebetulan hari ini tidak ada kelas mengajar dan kelas kuliah, hanya ada beberapa janji yang bisa ditunda ke hari Rabu.
Hari ini satu hari bersama mama, tidak biasanya bisa membuatkan satu gelas teh dan dua lembar roti panggang. Karena mama tetap tidak mau istirahat meskipun sakit, akhirnya ikut bantu mencuci, menyapu rumah dan berkebun membersihkan taman depan rumah. Ternyata ini kegiatan mama sehari-hari kalau kami bertiga tidak ada di rumah, mama tidak pernah mengeluh untuk bangun paling pagi untuk menyiapkan makanan untuk kami, serta melakukan semua pekerjaan rumah sehingga rumah menjadi sangat nyaman untuk dihuni kami sekeluarga. Termasuk ketika bulan lalu saya harus dirawat di rumah selama 5 hari karena thypus, mama yang merawat dan menyediakan semuanya. Terimakasih ma, anak-anakmu patut menyebutmu berbahagia.
Rasanya ada banyak orang yang mengingatkan saya untuk menyayangi mama selama masih sehat dan belum berkeluarga. Pertama kali yang membuka mata saya tentang hal ini, adalah Ibu Irene (psikolog yang melakukan wawancara saat seleksi karyawan di Maranatha). Setidaknya yang saya ingat dari nasihat beliau adalah “Sering-sering pulang ke Tegal ya, satu atau dua minggu sekali menjenguk mama, biayanya kan tidak terlalu mahal. Mumpung masih belum punya istri, kalau sudah punya istri biasanya sikap terhadap mama jadi lain. Kalau sudah di atas umur 50, sudah menopause, biasanya kesehatan wanita lebih tidak menentu, mumpung sehat harus bisa membahagiakan mama.” Setidaknya sudah 3,5 tahun yang lalu didengar, tapi nasihat bijak yang membuka mata seperti itu seakan masih baru kemarin sore terdengar. Nasihat itu juga yang membuat saya akhirnya memikirkan untuk membeli rumah (meskipun dengan cara KPR) dan tinggal bersama mama di Bandung.
Beberapa hari yang lalu, saya juga diingatkan hal yang sama oleh teman online yang kebetulan baru kenal satu minggu yang lalu, tapi kami sudah berbagi banyak hal. Termasuk tentang mom, figur yang begitu beliau sangat rindukan hadir dalam kehidupannya secara penuh. Beliau mengingatkan tentang mom, dia menantang saya untuk membuatkan satu cangkir teh, mungkin sebagai tanda sayang (hari ini sudah saya lakukan). Beliau juga mengingatkan untuk sayang, dan mencari pasangan yang bisa merawat mom.
Saya juga ingat, bagaimana kotbah dari gembala di gereja, yang mengatakan bahwa “Kalau diharuskan untuk memilih salah satu, saya akan lebih memilih keluarga dibanding dengan gereja ini.” Karena menurut beliau, prioritas keluarga lebih tinggi dibanding pelayanan. Segala sesuatu dimulai dari keluarga, kalau hubungan di dalam keluarga tidak beres maka segala sesuatunya menjadi tidak beres.
Sekitar seminggu yang lalu juga, ada seorang teman lama yang ketemu secara online tengah-malam dan terbersit seberkas perkataan darinya “kamu pindah Jogja po’o”. Satu hal yang mungkin dengan mudah saya lakukan dua atau tiga tahun yang lalu, sekedar undur diri dari pekerjaan, undur diri dari kos-kosan dan pindah kota sambil mencari pekerjaan yang baru. Tapi satu tahun terakhir ini, dengan adanya keluarga yang tinggal bersama di Bandung, dengan posisi sebagai penyalur berkat utama di rumah, saya harus berulang kali berpikir jika harus mengikuti saran beliau. Ada begitu banyak tanggung jawab yang saya akan tinggalkan, terutama keluarga, kemudian pelayanan dan juga pekerjaan. Di mana di kota ini , ada begitu banyak jawaban yang terjadi atas doa-doa kami sekeluarga, ada begitu banyak pertolongan dan rancangan yang Tuhan sediakan secara ajaib dalam kehidupan saya. Tapi yang penting bukan kota di mana kita tinggal, tapi jauh lebih penting dari itu adalah perkenanan Tuhan atas hidup kita.
Abraham, Ishak dan Yakub tinggal di kota yang berbeda-beda. Abraham pergi ke Mesir saat kelaparan terjadi, tapi juga kemudian juga ke Gerar. Firaun dan Abimelekh memberkati Abraham karena perkara Sara. Ishak menabur di Gerar karena Tuhan melarang untuk pergi ke Mesir, dan Tuhan melipatgandakan taburannya. Melihat penyertaan Allah, Abimelekh pun berdamai dengannya. Yakub menghampiri Laban yang mengganti Rahel dengan Lea, meminta 7 tahun tambahan, mengubah upahnya bahkan sampai 10 kali, tapi tetap saja Yakub yang untung, berkat Tuhan beserta dengan orang yang berkenan di mata Tuhan. Jadi yang lebih penting adalah peka mendengar dan taat pada rencana Tuhan, di kota apapun kita di tempatkan bukanlah hal yang paling penting, yang terpenting adalah “Apakah perkenanan Tuhan ada dalam hidup saya di kota ini ?”

Recent Comments