Setidaknya ada kata maaf
Kemarin melihat proses pembukaan real-count KPU melalui layar TV-One. Di situ banyak dibahas mengenai komposisi perolehan suara, kemenangan Demokrat yang mengejutkan, dan menurunnya suara Golkar sebagai juara bertahan. Satu hal lagi yang dibahas adalah masalah DPT (Daftar Pemilih Tetap) yang tidak akurat (ada yang mengatakan tidak hanya kurang akurat, tapi kacau balau dan akhirnya banyak yang tidak terdaftar alias golput secara paksa). Dan sampai hari ini tidak ada pernyataan atau keterangan mengenai hal ini dari KPU. Presenter sempat menyinggung masalah kekacauan DPT, dan mempertanyakan tanggung jawab KPU, atau setidaknya ada kata maaf.
Belajar dari kata-kata tergaris di atas, kata maaf masihlah satu hal yang penting dan diharapkan keluar dari pihak yang bertanggung jawab. Setiap kesalahan yang terjadi baik disengaja atau tidak oleh seseorang, dapat menimbulkan kerugian secara materi maupun jiwani kepada pihak yang dirugikan. Dan bukan hal yang bijak jika pihak yang bertanggung jawab meninggalkan masalah itu begitu saja, menganggap selesai tanpa perlu ada penjelasan dan permintaan maaf dan bahkan bertanggung jawab mengganti rugi.
Seringkali posisi pemimpin lah yang melakukan hal ini kepada pihak yang dipimpin. Kalau yang dirugikan adalah pihak yang memimpin, dan pihak bawahan tidak mengaku salah dan minta maaf, pasti berlanjut ke tindakan disiplin. Tapi sangat berbeda jika yang melakukan adalah pihak pemimpin, pihak bawahan tidak bisa protes apalagi memberikan tindakan disiplin kepada pemimpinnya. Mungkin masih saja ada anggapan “pemimpin tidak pernah salah” atau mungkin ada gengsi untuk meminta maaf. Tapi tentu saja akan menyisakan rasa ketidakpercayaan kepada pemimpin dan pasti mengurangi rasa hormat kepada pemimpin. Jika kita adalah pemimpin yang banyak ditinggalkan oleh orang-orang yang pernah kita pimpin, koreksilah diri kita sendiri, apakah kita memang layak diberi kepercayaan dan penghormatan.
Memang kata maaf tidak selalu bisa mengganti kerugian dan terlebih luka hati yang ditinggalkan pada pihak yang dirugikan. Tapi setidaknya ada kata maaf, yang dapat mengembalikan kepercayaan dan penghormatan kepada pemimpin yang mau rendah hati mengakui kesalahan dan meminta maaf.
Yah, itu sekedar refleksi untuk saya pribadi yang memimpin setidaknya beberapa mahasiswa di dalam kelas ataupun pekerjaan lain di kampus. Setidaknya ada kata maaf, jika saya melakukan kesalahan secara sengaja maupun tidak. Mengeraskan hati dan tidak mau merendahkan diri untuk meminta maaf adalah kesombongan dan keangkuhan, tentu saja bukan termasuk sebagai karakter yang baik untuk dipertahankan.
After all, mau sharing tentang Lukas 6:38 “Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.”
Ayat ini sering muncul ketika kita bicara tentang berkat jasmani. Tapi kalau tidak diambil sepotong-sepotong, sebenarnya lengkapnya :
6:37. “Janganlah kamu menghakimi, maka kamupun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamupun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni.
6:38 Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.”
6:39 Yesus mengatakan pula suatu perumpamaan kepada mereka: “Dapatkah orang buta menuntun orang buta? Bukankah keduanya akan jatuh ke dalam lobang?
6:40 Seorang murid tidak lebih dari pada gurunya, tetapi barangsiapa yang telah tamat pelajarannya akan sama dengan gurunya.
6:41 Mengapakah engkau melihat selumbar di dalam mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui?
6:42 Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Saudara, biarlah aku mengeluarkan selumbar yang ada di dalam matamu, padahal balok yang di dalam matamu tidak engkau lihat? Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.”
Dan judul perikopnya adalah “Hal Menghakimi”. Kalau dikaitkan dengan ayat 37 mengenai pengampunan, dapat dikatakan bahwa perihal memberi di ayat 38 adalah pemberian pengampunan. Mengenai istilah “Satu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan tumpah keluar” jadi ingat ilustrasi kotbah beberapa minggu lalu tentang ayat ini. Ini seperti tukang kacang rebus yang menggunakan kaleng untuk menakar kacang dari tempatnya, untuk kemudian dimasukkan ke contong kertas untuk dibungkus. Takaran yang tidak padat adalah seperti kaleng yang dimasukkan ke tumpukan kacang, lalu terlihat penuh, dan langsung dimasukkan ke contong kertas. Tapi sangat berbeda dengan kualitas takaran yang padat. Takaran yang padat adalah seperti kaleng kosong yang dimasukan ke tumpukan kacang, keluar terlihat penuh tapi digoncang-goncangkan sehingga rongga-rongga yang tersisa dapat terisi. Setelah digoncang dan permukaan kaleng turun, maka kacang diisikan lagi di atasnya, dan bahkan tidak hanya digoncang-goncang tapi juga dipadatkan dan bahkan tumpah keluar. Ini yang dinamakan “Satu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan tumpah keluar”.
Begitu juga dengan takaran kita, kita yang sudah mengalami kasih Allah yang begitu besar dalam hidup kita, seharusnya kita punya takaran kasih yang sampai tumpah keluar. Artinya kasih dan pengampunan juga mengalir keluar dari hidup kita secara otomatis ketika kita mengalami takaran kasih dan pengampunan Allah. Tidak ada lagi penghakiman terhadap saudara-saudara kita, selain teguran yang penuh kasih jika kita melihat ada saudara kita yang melakukan kesalahan, sambil mengeluarkan balok kita sendiri dari mata kita (hakimilah diri kita sendiri, nilailah pekerjaan kita sendiri, ujilah diri kita sendiri).
Mari kita belajar saling mengampuni, Selamat Paskah, Tuhan memberkati.

Recent Comments