Memberi (giving)
A. Dasar Firman Tuhan
(Kejadian 8:22)
“Selama bumi masih ada, takkan berhenti-henti musim menabur dan menuai, dingin dan panas, kemarau dan hujan, siang dan malam.”
(2 Korintus 9:6-15)
[6] Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga.
[7] Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.
[8] Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan.
[9] Seperti ada tertulis: “Ia membagi-bagikan, Ia memberikan kepada orang miskin, kebenaran-Nya tetap untuk selamanya.”
[10] Ia yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan, Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu;
[11] kamu akan diperkaya dalam segala macam kemurahan hati, yang membangkitkan syukur kepada Allah oleh karena kami.
[12]Sebab pelayanan kasih yang berisi pemberian ini bukan hanya mencukupkan keperluan-keperluan orang-orang kudus, tetapi juga melimpahkan ucapan syukur kepada Allah.
[13]Dan oleh sebab kamu telah tahan uji dalam pelayanan itu, mereka memuliakan Allah karena ketaatan kamu dalam pengakuan akan Injil Kristus dan karena kemurahan hatimu dalam membagikan segala sesuatu dengan mereka dan dengan semua orang,
[14]sedangkan di dalam doa mereka, mereka juga merindukan kamu oleh karena kasih karunia Allah yang melimpah di atas kamu.
[15] Syukur kepada Allah karena karunia-Nya yang tak terkatakan itu!
(Markus 12 : 41-44)
[41] Pada suatu kali Yesus duduk menghadapi peti persembahan dan memperhatikan bagaimana orang banyak memasukkan uang ke dalam peti itu. Banyak orang kaya memberi jumlah yang besar.
[42] Lalu datanglah seorang janda yang miskin dan ia memasukkan dua peser, yaitu satu duit.
[43] Maka dipanggil-Nya murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan.
[44] Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya.”
B. Hukum Tabur Tuai (memberi dan menerima / Sowing & Reaping)
1. Hukum Tabur Tuai adalah Hukum Ekonomi Allah.
Tabur = memberi , Tuai = menerima
Ada perbedaan mendasar antara Hukum dan Janji/Perjanjian :
|
Hukum |
Janji |
| - Hukum berlaku tanpa syarat, tanpa kecuali
- Contoh Hukum : |
- Janji berlaku jika syarat dipenuhi
- Contoh Janji : |
Hukum gravitasi di bumi ini berlaku untuk segala sesuatu. Hukum gravitasi tidak dibatasi oleh tempat (Di mana secara alami kita bisa menjatuhkan diri tanpa jatuh ke bawah ?), waktu (siang ataupun malam), orang (orang beriman maupun tidak), benda (benda hidup maupun mati, berat ataupun ringan) atau sesuatupun yang lain. Hukum gravitasi berlaku untuk segala sesuatu dan tanpa terkecuali.
Begitu jugalah dengan Hukum Tabur Tuai, hukum ekonomi Allah ini akan berlaku tanpa terkecuali. Hukum ini akan berlaku baik bagi orang percaya maupun orang tidak percaya.
2. Berikut ada 4 Hukum Tabur Tuai yang disampaikan di 2 Korintus 9 :
2.1. Siapa menabur, dia menuai
(2 Kor 9 : 6 Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga.)
Setiap orang akan menuai setiap benih yang ditaburnya.
2.2. Tuaian sebanding dengan taburan
(2 Kor 9 : 6 Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga.)
Orang yang menabur sedikit akan menuai sedikit juga, orang yang menabur banyak akan menuai banyak juga. Kuantitas/jumlah taburan tidak dinilai dari nominal, tapi dari proporsional. Kisah seorang janda miskin di Markus 12 : 41-44 menggambarkan mengenai jumlah taburan secara proporsional. Meskipun janda miskin tersebut memberikan hanya 1 duit (2 peser), akan tetapi dialah yang melakukan pemberian paling besar, karena dia memasukkan seluruh uang yang ada padanya. Sedangkan banyak orang kaya yang memberi dalam jumlah besar, meskipun jumlahnya jauh lebih besar dibandingkan 1 duit, tapi secara proporsional hanyalah sebagian kecil dari seluruh uang kepunyaan mereka.
2.3. Tuhan melipatgandakan taburan
(2 Kor 9 : 10 Ia yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan, Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu; )
Taburan tidak kembali dengan jumlah yang sama, tapi berlipat ganda. Tuhan yang akan melipatgandakan setiap benih yang ditaburkan.
2.4. Kualitas benih yang ditabur harus baik
(2 Kor 9 : 7 Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.)
Suatu benih yang ditabur dapat dikatakan baik jika :
- bukan benih yang didapat dari hasil yang tidak benar (contoh : uang hasil korupsi)
- dilakukan dengan sukacita
- tidak dilakukan dengan paksaan/sedih hati
- pemberian dilakukan dengan motivasi yang tulus
- pentingnya memiliki sikap yang benar terhadap uang (tidak cinta uang atau menjadi hamba uang)
- tidak dilakukan dengan maksud berjudi terhadap Allah
3. Akibat memberi
(2 Kor 9:8 Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan.)
Pemberian akan membuat :
- segala kasih karunia dilimpahkan
- berkecukupan dalam segala sesuatu
- berkelebihan dalam pelbagai kebajikan
4. Cara memberi
(2 Kor 9:10 Ia yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan, Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu;)
Berkat (salah satu contohnya adalah keuangan) dalam kehidupan kita harus dibagi menjadi 2 bagian.
Satu bagian sebagai roti dan satu bagian sebagai benih.
- Roti –> dinikmati sendiri, digunakan untuk kebutuhan pribadi
- Benih –> digunakan untuk menabur
5. Tujuan memberi
(2 Kor9:9 Seperti ada tertulis: “Ia membagi-bagikan, Ia memberikan kepada orang miskin, kebenaran-Nya tetap untuk selamanya.”)
Tujuan memberi adalah membagi kepada orang membutuhkan (miskin).
6. Hakekat memberi
(2 Kor 9 : 12 Sebab pelayanan kasih yang berisi pemberian ini bukan hanya mencukupkan keperluan-keperluan orang-orang kudus, tetapi juga melimpahkan ucapan syukur kepada Allah.)
- memberi adalah satu pelayanan (pelayanan kasih)
- mencukupkan keperluan orang-orang kudus (saudara-saudara kita seiman)
- melimpahkan syukur kepada Allah (bukan penghormatan pribadi)
7. Dampak memberi
(2 Kor 9 : 11 kamu akan diperkaya dalam segala macam kemurahan hati, yang membangkitkan syukur kepada Allah oleh karena kami.)
Diperkaya dengan segala kemurahan hati
8. 3 jenis Pemberian
8.1. Memberi dengan ketaatan (contoh : perpuluhan)
Perpuluhan diberikan bukan dengan dasar Taurat, tapi dengan dasar Abraham memberi kepada Melkisedek. Perpuluhan dilakukan untuk menunjukkan ketaatan kita kepada Allah.
Contoh : Pemberian 10% oleh Abraham kepada Melkisedek
8.2. Memberi dengan sukacita (pemberian di luar perpuluhan)
Melakukan pemberian selain pemberian yang wajib ditaati. Besarnya pemberian sesuai dengan keputusan seseorang membagi antara bagian roti dan bagian benih (tentang pembagian roti dan benih, sudah dibahas pada no.4 mengenai Cara Memberi).
Contoh : Pemberian jemaat mula-mula pada jaman rasul-rasul
8.3. Memberi dengan korban (pemberian 100%)
Memberi segala sesuatu yang dimiliki, lakukan jika memang Tuhan yang memberikan karunia iman.
Contoh : Pemberian janda miskin di Sarfat kepada Elia
[Diilhami dari kotbah Ir. David Kurniadi Muliadi (president director PT Stockindo Kurnia Lestari, chairman PT Mondave International, dan salah satu pendiri Kingdom Business Network Indonesia)]

Recent Comments